IMPAS : Data Tanah dan Bangunan Asrama Mahasiswa Aceh

Ikatan Mahasiswa Pascasarjana (IMPAS) Aceh-Jakarta menyatakan prihatin dan turut berduka atas terjadinya teror dan pengembokan salah satu asrama mahasiswa Aceh di Yogjakarta. Aksi premanisme dan teror dilakukan oleh oknum yang disinyalir sebagai anggota dari sebuah ormas. “Kami menyatakan keberatan dan prihatin atas terjadinya tindak premanisme yang yang dilakukan oleh oknun anggota salah satu ormas, terhadap teman-teman mahasiswa Aceh di Yogjakarta” Sebut Pj. Ketua IMPAS, Khairul Rijal dalam siaran persnya (13/10) di Jakarta.

Aksi yang melibatkan 10 orang preman yang berbadan tegap, diduga suruhan dari pihak yang mengaku, bahwa tanah pertapakan asrama mahasiswa Aceh itu, milik keluarga mereka. Padahal asrama mahasiswa Aceh yang terletak di jalan Poncowinatan tersebut, sudah dihuni oleh mahasiswa asal Aceh sejak puluhan tahun silam. Asrama tersebut dihuni sejak tahun 1963, baru sekarang ada orang yang mengkalaim itu tanah milik keluarga Ibu Innawati Jusup. “Yang benar saja, berdasarkan pengakuan teman-teman di sana (Yogja), bahwa asrama tersebut sudah ditempati oleh mahasiswa asal Aceh sejak tahun 1963, baik S1 maupun S2 ” ungkap Khairul.

Selanjutnya Khairul, meminta kepada pemerintah Aceh dalam hal ini Gubernur dan Ketua DPR Aceh untuk dapat segera membentuk tim guna menginventarisir semua aset berupa tanah dan bagunan asrama mahasiswa atau aset lainnya yang ada di luar Aceh. “Sudah sepatutnya pemerintah Aceh untuk membentuk tim, guna menelusuri dan mendata aset Aceh yang ada di seluruh Indonesia, agar aset tersebut mendapatkan legalitas dan sertifikasi dari pejabat yang berwenang” pinta Khairul

Khairul juga menambahkan, kejadian pengembokan dan klaim kepemilikan dapat terjadi kapan saja, sekarang di Yogja, besok Jakarta dan berpeluang terjadi di tempat lain dalam kasus yang beerbeda. Bagi mahasiswa sebagai penghuni juga perlu dibekali informasi dan data yang cukup tentang historis asrama. “Selayaknya para pendahulu untuk menyiapkan informasi berupa catatan kronologis atas hak tanah dan bangunan asrama, selama ini, informasi terkait keberadaan lahan dan bagunan asrama sangat terbatas. Nah, ketika terjadi sengketa seperti ini, kita kewalahan mencari data dan kronologis tentang pelepasan hak atau sebutan lain atas lahan” Kata Khairul

Kedepan kita berharap kejadian premanisme dan teror ala preman ini, tidak lagi terjadi. Apabila ada pihak yang merasa dirugikan silakan menempuh jalur hukum. “Kita negara hukum, semua ada salurannya, jangan main hakim sendiri” pungkas Khairul yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa S2 PKN Universitas Indonesia Jakarta.

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*