Tazbir, putra Lhokseumawe yang jadi Kadis Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta

HAYEU, hebat! Putra Aceh ini sudah enam tahun menjabat Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ia sukses mengomandani dinas tersebut di provinsi yang menjadi salah satu destinasi utama pariwisata Indonesia.

Namanya, Tazbir Abdullah. Lahir di Desa Mongeudong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, 2 Desember 1957 silam, Tazbir menghabiskan masa kecil di tanah kelahirannya. Setelah menamatkan SMP di Bireuen, ia melanjutkan pendidikan SMA hingga perguruan tinggi di Yogyakarta.

Dilansir jogjatrip.com, situs yang menyajikan informasi seputar pariwisata  DIY, seusai meraih gelar sarjana hukum pada Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (FH UII) Yogyakarta, Tazbir memulai karir di Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel) Yogyakarta tahun 1986.

Meja kerja dibidani Tazbir saat awal bertugas di Deparpostel adalah bagian komunikasi. Beberapa tahun berhasil mengemban tugas di bagian tersebut, ia lantas dimutasi ke bidang pariwisata.

“Satu-satunya alasan yang membuat atasan saya mengalihkan tugas saya (ke bidang) pariwisata adalah karena saya dinilai pandai bergaul,” kenang ayah dua anak ini.

Tazbir memang dikenal supel di kalangan stakeholder pariwisata DIY. Kemampuan ini agaknya didasari pemaknaan dia atas konsep Islam bahwa silaturahmi dapat memperpanjang usia dan memperbanyak rezeki. Dengan prinsip itulah, Tazbir merefleksikan pekerjaannya sebagai ibadah yang tidak perlu dianggap menjadi  beban berat. Sebab menurutnya pekerjaan bisa dipadupadankan dengan hobi.

Karir Tazbir di bagian pariwisata semakin cemerlang seiring kemampuannya memasarkan potensi pariwisata Yogyakarta. Tahun 2000, Tazbir bertugas sebagai Kepala Sub Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIY. Lima tahun kemudian menjabat Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata.

Akhirnya sejak tahun 2007, Tazbir mendapat kepercayaan dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, menjadi Kepala Dinas Pariwisata DIY. Tugas tersebut bukanlah sesuatu yang sulit meskipun memiliki tantangan. Sebab, Yogyakarta adalah salah satu destinasi utama pariwisata Indonesia dan Asia.

DIY memiliki banyak obyek wisata, baik wisata alam, sejarah, budaya, minat khusus, religius, pendidikan maupun kuliner. Daya tarik Yogyakarta terletak pada keberadaan Kraton Ngayogjokarto Hadiningrat, salah satu pusat budaya Jawa yang masih bertahan hingga sekarang.

Tazbir mengakui bahwa promosi memegang peran penting dalam meningkatkan industri pariwisata. Salah satu hal mendasar yang telah dilakukan Tazbir bersama jajarannya ialah menggandeng media massa, baik dari dalam maupun luar negeri untuk promosi.

Kerja sama dengan majalah My Wedding dari Malaysia, misalnya. Hasil liputan khusus, majalah tersebut mengulas kurang lebih 30 halaman tentang obyek-obyek wisata Jogja.

Selain promosi melalui media, alumnus terbaik Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Marketing Tingkat Spesialis tahun 1997 ini, juga mengumpulkan kembali koordinasi stakeholder pariwisata DIY.

“Papan berisi tanda tangan merupakan salah satu bentuk komitmen stakeholder, agar kita memiliki visi dan misi yang sama, yaitu menjaring sebanyak mungkin wisatawan untuk datang ke Yogyakarta,” ujar Tazbir yang menerima  penghargaan tourism award dari Kementerian Pariwisata Malaysia sebagai The Most Potential Foreign Destination tahun 2008.

Melalui direct lobbying (melobi langsung), Tazbir berhasil pula menggaet kerja sama dengan Air Asia untuk membuka kembali rute intenasional Yogyakarta–Singapura–Kuala Lumpur. Itu sebabnya, dalam penghargaan yang diberikan Air Asia untuk DIY, tertera nama Tazbir.

Di antara banyak kebiasaan yang berhubungan dengan tugas-tugasnya, ia mengoleksi kartu nama. “Sejak saya mengenal kartu nama, tidak pernah selembar pun yang saya buang. Semuanya saya tempel rapi di buku tulis dan terklasifikasi menurut tahun,” ujar Tazbir yang juga mengajar marketing pariwisata di beberapa perguruan tinggi di DIY.

Kesan menghargai silaturahmi dan perkenalan sangat terlihat dari kebiasaan unik tersebut. Sehingga, ke mana pun Tazbir pergi, ia memiliki teman atau sekadar kenalan lantaran ada di koleksi kartu nama itu.

Sisi humanis Tazbir ini bisa jadi merupakan gambaran dari prinsip Tazbir tentang hubungan silaturahmi yang selama ini sudah dipraktekan, dan terbukti mampu mendatangkan berkah. Refleksi itulah yang acapkali ia dapatkan saat melakukan hobinya berjalan kaki.

“Dengan berjalan kaki, kita bisa memaknai, merenungi sekaligus melihat,” ujar Tazbir.

Di Yogyakarta, ada Asosiasi Jalan Kaki, Jogja Walking Association yang sejak tahun 2008 menyelenggarakan event tahunan bertaraf international dengan nama “Jogja International Heritage Walk (JIHW)”.

Kegiatan ini untuk memasyarakatkan jalan kaki sebagai sarana rekreasi dan olahraga sederhana yang bermanfaat untuk semua kalangan. Tujuannya memengaruhi gaya hidup sehat, menumbuhkan cinta lingkungan  berkesinambungan, sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan masyarakat lokal yang mempunyai hobi olahraga jalan kaki sambil berekreasi.

“Belum lama ini, kita mewakili Indonesia ke Perancis menghadiri pengkuhan Jogja sebagai anggota tetap Asosiasi atau Liga Jalan Kaki Dunia (International Marching League),” kata Tazbir kepada ATJEHPOSTcom, Senin petang, 16 September 2013.

Tazbir telah sukses berkarir di luar Aceh. Tetapi ia tak melupakan kampung halamannya. Suami dokter Nurul Hayah M.Kes., Kepala  Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBP3A) Kabupaten Sleman, DIY, ini sering pulang ke Lhokseumawe jika ada acara keluarga di tanah kelahirannya.

“Terakhir saya pulang ke Mongeudong, dua tahun lalu, saat meninggal ibu saya,” ujar Tazbir.

Ia juga sudah dua kali memenuhi undangan Pemerintah Kota Banda Aceh dan Pemerintah Aceh menjadi pembicara tentang strategi mengembangkan potensi pariwisata di Aceh. “Tahun lalu saya diundang sebagai narasumber pada acara di  Kantor Gubernur Aceh,” katanya.

Sejak masa Gubernur Aceh Abdullah Puteh, Tazbir beberapa kali diminta pulang ke Aceh untuk memajukan sektor pariwisata. Ia menolak ajakan tersebut dengan halus. Meski memilih bertahan di Yogyakarta, ia menyatakan tetap berupaya membantu Aceh.

“Jadi lebih baik saya bantu dari sini (Yogyakarta). Dan beliau-beliau yang mengajak saya pulang ke Aceh, bisa memahami,” ujar Tazbir.

Tazbir menyebutkan Yogyakarta dan Aceh sudah meneken MoU pada masa Penjabat Gubernur Mustafa Abubakar. MoU itu terkait berbagai bidang, termasuk pariwisata.

“Kita saling tukar informasi dan promosi pariwisata. Kami bersama DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta pernah datang ke Aceh. Kita juga sudah kirim wartawan dari Jogja untuk membuat liputan menyangkut pariwisata di Aceh,” katanya.

Tahun lalu, kata Tazbir, tim travel dari Belanda datang ke Sabang setelah mereka berkunjung ke Jogja. Bulan lalu, TV9 Malaysia melakukan liputan ke Jogja, lalu ke Aceh.

“Kepada wisatawan mancanegara yang mengunjungi Jogja, kita dorong untuk datang juga ke Aceh,” ujar Tazbir.[] – See more at: http://www.atjehpost.com/sosok_read/2013/09/17/66320/78/10/Tazbir-putra-Lhokseumawe-yang-jadi-Kadis-Pariwisata-Daerah-Istimewa-Yogyakarta#sthash.FSvmCIki.dpuf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*