Sembilan Cabang TIM Berdoa untuk 10 Tahun Tsunami

Logo_10th_final

JAKARTA – Merujuk peristiwa 10 tahun silam itu, masyarakat Aceh di perantauan terutama komunitas yang tergabung dalam paguyuban Taman Iskandar Muda yang tersebar di seantero Jabodetabek, Banten dan sebagian Jawa Barat (Karawang dan Sukabumi) mengadakan muhasabah selama tiga hari berturut-turut secara bergantian di masing-masing cabang Taman Iskandar Muda (TIM) dalam rangka mengenang dan refleksi satu dasa warsa bencana gempa dan gelombang tsunami dengan bentuk kegiatan berupa dzikir dan taushiyah plus do’a untuk korban yang meninggal dunia dalam mushibah tersebut.

Sebanyak sembilan  cabang dari 46 cabang TIM telah melaksanakan ritual muhasabah sejak 25, 26 dan 27 Desember 2014 antara lain; TIM Cabang Banten, TIM Cabang Bogor, TIM Cabang Cempaka Putih-Johar Baru, TIM Cabang Cakung, TIM Cabang Pasar Mingggu, TIM Cabang Parung, TIM Cabang Parung Panjang dan TIM Cabang Pondok Gede telah dilaksanakan serentak pada Kamis malam, 25 Desember 2014.  Sedang sisanya yaitu TIM Cabang Depok, Pasar Kemis dilaksanakan pada Jum’at malam, 26 Desember 2014, TIM Cabang Klender, Jum’at malam, 26 Desember 2014  dan TIM Cabang Depok Sukmajaya telah dilaksanakan pada Sabtu malam, 27 Desember 2014.  Sementara TIM Cabang Balaraja baru akan dilaksanakan pada Kamis malam, 8 Januari 2015 mendatang yang disinergikan dengan momen pengajian rutin cabang bersangkutan.
Gempa bumi berkekuatan 8,9 pada skala Richter yang terjadi di Samudera Hindia, di lepas pantai barat laut pulau Sumatera yang kemudian disusul oleh gelombang tsunami ini telah menyebabkan kerusakan terparah di sebagian besar Provinsi Nanggroé Aceh Darussalam  dan sebagian Sumatera Utara (Nias dan Bedagai) dalam wilayah teritorial Indonesia, sebagian wilayah Thailand, Sri Lanka, Maladewa (Maldives), Bangladesh, Burma, bahkan sampai ke pantai Somalia di Afrika Timur.

Di Aceh, bencana gempa dan gelombang tsunami ini telah merusak sebagian besar pesisir barat dan utara Nanggroé Aceh Darussalam yang menelan banyak korban jiwa, menghancurkan sebagian besar infrastruktur, permukiman, sarana sosial seperti bangunan-bangunan pendidikan, kesehatan, keamanan, sosial, dan ekonomi publik, serta bangunan-bangunan pemerintah.

Bencana ini juga telah mempengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, termasuk kondisi psikologis, dan tingkat kesejahteraannya. Merujuk pada laporan kegiatan  satu tahun Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekontruksi Nanggroé Aceh Darussalam dan Nias, jumlah korban dari 20 kabupaten di Provinsi Nanggroé Aceh Darussalam (NAD) menurut data mutakhir diperkirakan mencapai 200 ribu orang meninggal dunia dan telah dimakamkan, dan sebanyak 37 ribu orang dinyatakan hilang. Dari  sumber informasi yang sama, jumlah pengungsi yang tersebar sebanyak 514.150 jiwa di 21 kabupaten/ kota se-Provinsi Nanggroé Aceh Darussalam, (BRR NAD-Nias, 2006 :20).*

Mengacu pada hasil perhitungan, nilai kerusakan dan kerugian di kedua wilayah tersebut secara total diperkirakan mencapai Rp 41,4 triliun, di mana sebagian besar (78 persen) merupakan aset hak milik masyarakat (non-publik), sementara sisanya merupakan aset pemerintah, (BRR NAD-Nias, 2006 :20)*.

Beranjak dari kenyataan tersebut, Pemerintah Republik Indonesia bersama-sama dengan masyarakat internasional yang bersimpati atas bencana dan dampak yang ditimbulkannya telah secepatnya melakukan upaya-upaya tanggap darurat (emergency relieve efforts) yaitu terutama bertujuan untuk menolong korban-korban yang masih hidup, segera menguburkan jenazah-jenazah untuk mencegah dampak lanjutan, dan memberi pertolongan cepat untuk menyelamatkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat yang terkena bencana.

Selanjutnya upaya tanggap darurat segera akan ditindaklanjuti dengan upaya-upaya rehabilitasi seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat Aceh, kemudian melaksanakan rekonstruksi dan pembangunan kembali wilayah ini agar kembali seperti sediakala, bahkan lebih maju dari sebelumnya.

Perbaikan infrastruktur, pemulihan kondisi perekonomian, dan perbaikan berbagai sektor kehidupan telah menjadi prioritas sampai tahun 2009, namun perbaikan-perbaikan tersebut belum akan menyelesaikan masalah yang ada, karena masyarakat korban juga membutuhkan bantuan untuk memulihkan kondisi kesehatan mental mereka.

Trauma psikologis yang terus menghinggapi korban pasca tsunami sehingga memerlukan penanganan khusus agar korban tidak terus menerus dihinggapi oleh rasa takut dan fobia terhadap gempa dan air laut. Hal ini dapat saja terjadi mengingat Provinsi Aceh terutama kawasan Meulabóh, Aceh Jaya, sebagian Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh secara geografis persis terletak di bibir pantai Samudera Hindia yang diprediksikan oleh banyak ahli seismologi sebagai tempat yang rawan gempa berkekuatan tinggi.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa bumi dan gelombang tsunami telah menyebabkan distres (stres traumatik, stres yang terkait kehilangan dsb.) pada sebagian besar masyarakat korban termasuk kalangan remaja dan anak-anak. [syahrul arifin]

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*