Maskur, Penjaga Manuskrip dari Lung Putu

JAKARTA – Maskur. Namanya singkat. Namun apa yang dilakukan tidak sesingkat namanya. Kerjanya mewarisi ingatan merawat warisan intelektual Aceh. Pria kelahiran  Blang Glong, Kabupaten Pidie  5 Juli 1997 memiliki hobi  koleksi dan membaca sejarah.

Remaja kelima dari  tujuh bersaudara ini menempuh jenjang pendidikan di SDN 1 Lueng Putu 2003-2007,  SDN3 Peukan Pidie 2007 – 2009 (pindah), SMPN 1 Bandar Baru 2009-2012 dan  MAN Beureunuen 2012 yang ditamatkan pada 2015. Putra dari Syafruddin. A dan  Nurasiah memiliki  Ketertarikan dalam bidang sejarah sejak SD.  Kegiatan lain  pada 2011 Mengikuti Jambore Daerah Aceh di Nagan Raya  dan Nasional Pramuka di Palembang, Sumsel,  2010/2011 Ketua Osis SMPN 1 Bandar Baru, 2012 LT III Pidie Jaya dan 2013 /2014 Wakil Ketua Osim Man beureunuen

“Saya mulai koleksi uang konon/Numismatic sejak 2012 sampai sekarang dan
Pada 4 Juni 2014 mulai koleksi manuskrip sampai sekarang,” ungkapnya ke redaksi, Sabtu (20/6).

Ketika ditanya mengapa masih siswa sudah mau koleksi manuskrip?  Ada 10 jawaban sebagai berikut
1. Manuskrip ini adalah bukti kebesaran masyarakat Aceh pada zaman dahulu
2. Manukrip ini adlah bukti otentik kejayaan Aceh yang wajib kita jaga bersama
3. Dalam manuskrip kita dapat mengetahui bagaimana perkembangan satra masyarakat Aceh
4. Banyak sejarah sejarah yang pernah di bolak-balikkan oleh kapitalisme barat dan kita temukan kebenarannya dalam manuskrip
5. Leluhur kita sudah menulis dan meninggalkan kepada kita semua sudah sepatutnya kita jaga
6. Kita juga dapat mengetahui  baimana tekhnologi yang digunakan masyarakt aceh pada zaman itu
7. Orang Aceh dulu menulis manuskrip ini pada kertas eropa ini adalah bukti kejaayaan aceh yang menjalin diplomasi dngan negeri lain zaman itu
8. Manuskrip ini adlaah Khazanah islam bukti peradaban islam yang kuat di Aceh
9. Kita tau manuskrip ini di Nusantar bemuara d Aceh , jadi tugas kita untuk menjaga nya agar tidak lagi lolos ke luar negri
10. Dalam manuskrip ini tidak hanay ilmu agama yang kita dapatkan melainkan penulisannya bjuga di fokuskan untuk Sejatah, Politik, ilmu Hukum, ilmu fal / perbintangan , hikayat , Sastra dan laiinya , Hal ini akan membuktikan bahwa Masyarakat Aceh sudah ratusan tahnun lalu gemar menulis., Seperti Hamzah fansuri , Nuruddin. Ar Raniry, Syech abdurrauf Al singkili, Faqih Jalaluddin lamghut, Tgk syik di simpang.

Kerja tak kenal lelah ini telah mengumpulkan 350 naskah yang mayoritas sudah sangat rusak, Rapuh , lapuk dan sangat banyak naskah yang sudah tidak lengkap.
“Untuk memperoleh naskah-naskah itu, paling kurang sudah saya habiskan sekitar Rp 20 juta untuk membayar naskah dari masyarakat atau agen barang antik/langka,” ingatnya

Disebutkan, biaya untuk beli naskah diperoleh dari hasil jual beli uang kuno, kerja di Foto copy, sisa uang jajan   yang dianggarkan untuk membeli naskah.

“Untuk memperoleh naskah, saya tidak minta kepada orang tua,” ucapnya singkat.

Maskur mengakuinya, pada awalnya, tidak sepenuhnya keluarga mendukung karena dinilai membuang uang dan tidak bermanfaat. Namun setelah 180 naskah dikoleksi dan diminta oleh Camat Geulumpang Baru Pidie untuk  dipamerkan di Pedir Museum setelah itu sangat banyak dukungan dari keluarga dan kelompok masyarakat dan hingga sekarang dukungan dari orang tua pun sangat besar.

“Kadang orang tua menemani saya ketika berburu naskah di masyarakat,” tukas Maskur senang.
Diakuinya, naskah termahal yang dibeli adalah sebanyak 8 naskah melalui agen barang langka. Sedangkan naskah yangdiberi gratis atau hibah dari warga ada  38 Naskah keseluruhannya sangat rusak parah dan perlu sekali untuk di resotrasi.

Apa saja kendala menyimpan manuskrip? Maskur menyebutkan dua kendala yakni dana dan masyarakat sendiri. Masalah dana, dirinya bukan orang yang punya kerja tetap /pegawai. Hany pelajar jika ada sedikit dana ya langsung saya terjun ke masyarakat jika tidak ya mau bagaimana lagi kadang kadaang terpaksa mengutang dulu agar manuskrip itu tetap bisa saya peroleh.

Kendala kedua, dari masyarakat sendiri yang susah memberikannya pada kita naskah itu dan banyak pula yang mengaitkan dengan mistik dan sebgainya padahal naskah tersebut kondisi nya sangat memprihatinkan dan perlu segra kita selamatkan. (murizal hamzah)

Maskur

Maskur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*