MELIRIK PELUANG USAHA KULINER ACEH DI JAKARTA SEKITARNYA

Hamidi hasyim (penulis artikel kuliner Aceh

Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di asia tenggara, Indonesia juga merupakan pasar sasaran utama bagi negara Asean sekaligus juga merupakan negara yang menghasilkan ragam produk kuliner yang kaya akan rempah-rempah dengan ciri khas masakan daerah masing-masing. Salah satu kuliner favorit masyarakat ibukota saat ini adalah kuliner Aceh. Katakanlah mie Aceh, nasi goreng Aceh, roti cane dan kopi Aceh, dengan tekstur dan rasanya beda dengan mie lainnya, kaya akan citarasa, khususnya kopi arabika Aceh dari tanah Gayo.

Saat ini masyarakat mulai menyukai masakan khas Aceh ini dengan respond positif mereka. Kita dapat melihat berbagai tempat makan di setiap sudut Jakarta hadir di jual mie Aceh. Tidak hanya di ibukota Negara, kota lain seperti Depok, Bogor, Bekasi, Tangerang dll juga mulai ramai dengan rumah makan khas Aceh tersebut. Ini berarti masakan khas Aceh tersebut banyak yang penggermarnya.

Faktor utama peminat masakan khas Aceh ini karena citarasa, aroma bumbu racikan yang tampil beda dengan masakan lainnya dan tentunya harga yang ditawarkan tidak terlalu mahal, membuat makanan khas Aceh tersebut diminati oleh masyarakat kuliner di Jabodetabek khusunya. Belum sempurna kuliner Aceh apabila belum menikmati secangkir kopi minuman khas Aceh juga sangat diminati oleh masyarakat khususnya laki-laki.

Seperti yang kita ketahui bahwa takengon terkenal akan kopinya yang mempunyai citarasa berbeda dengan kopi lainnya dan juga harganya relatif murah, oleh karena itu kopi arabika Gayo banyak diminati oleh masyarakat ibukota. Kita juga dapat menjumpai gerai dan cafe terkenal di ibukota yang selalu menghadirkan kopi arabika gayo bahkan kopi jenis arabika luwak gayo dapat kita jumpai disetiap sudut tempat kuliner.

Ditinjau dari sudut pandang pengusaha, para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)  Aceh khususnya yang bergerak di sektor makanan dan minuman di Ibukota negeri ini serasa terlupakan keberadaannya, terlebih saat ini seluruh komponen dan potensi dalam negeri harus mempersiapkan diri menghadapi  Asean Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir 2015.

Disisi lain sektor kuliner begitu diperhatikan pemerintah karena terbukti mampu membantu mengurangi pengangguran dan menambah pendapatan negara. Kopi gayo,  Mie Aceh dan beberapa kuliner yang berasal tanah rencong lainnya,  selama ini mulai marak dicari di pasar tradisional Ibukota,  survey pasar kuliner makanan dalam negeri membuktikan bahwa Kopi Gayo dan Mie Aceh mempunyai potensi besar bersaing dengan bebagai jenis kuliner makanan dan minuman tradisional Indonesia lainnya.

Mie Aceh khususnya yang saat ini masuk direlung pasar Ibukota sebagai andalan pendapatan warga Aceh harusnya lebih bisa mendorong peningkatan omzet penjualan, bersaing dengan produk kuliner dalam negeri lainnya, hendaknya Mie Aceh mengikuti produk Kopi Gayo mampu menembus pasar ASEAN seperti di Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Kamboja, Brunai, Myanmar dan Timur Leste bahkan Kopi Arabika Gayo Aceh menjadi andalan produk utama Indonesia mampu bersaing dengan masuk pasar internasional.

Potensi perdagangan produk makanan dan minuman Indonesia antar Asean sendiri diperkirakan mencapai 25 persen. Sedangkan di Indonesia, sekitar 90 persen industri makanan dan minuman adalah berskala kecil menengah,  outputnya berkontribusi masih sekitar 15 persen dari pendapatan nasional.  Konsekuensi MEA juga akan masuk makanan dan minuman impor, masyarakat bisa memilih mana produk-produk makanan dan minuman yang berkualitas yang sudah ber lebel secara bebas. Selain itu, barang dan jasa juga akan bebas keluar masuk tanpa hambatan.

Pengamatan sekilas penulis, diperkirakan saat ini jumlah warga Aceh se Jabodetabek yang bergerak di sektor informal ragam usaha jumlahnya mencapai 75% dari jumlah warga Aceh yang berdomisi se Jabodetabek. Ratusan warga didalamnya membuka usaha kuliner mie Aceh. Ini potensi dan peluang yang memerlukan sentuhan dan binaan teknis untuk mendukung kelancaran usahanya. Perlu dikui bahwa, mereka datang dengan kemapuan nekat dan ilmu paspasan, bahkan tidak sedikit mereka hanya berlatar belakang Ijazah SD,  adalah suatu fakta bahkan mereka bermodalkan kepercayaan dari berbagai pihak yang mempunyai lahan jualan yang biaya sewanya mencapai puluhan juta per tahunnya belum tersentuh pembinaan secara formal oleh pihak yang seharusnya melirik mereka.

Suatu kebanggaan kita juga, saat ini Mie Aceh dan kuliner ikutannya berada sejajar dengan makanan tradisional lainnya, tampil dijajaran bisnis pasar moderen. Saat ini ternyata telah masuk gerai Carrefour ITC Cempaka Mas. Dibawah manajemen Carrefour Indonesia, diharapkan Mie Aceh berpeluang  besar tampil di seluruh gerai Carrefour yang jumlahnya mencapai 70- an unit tersebar di  berbagi kota seluruh Indonesia.

Melihat kondisi dan potensi tersebut sudah saatnya para stekholder Aceh, tentunya melalui peran TIM pusat bekerjasama dengan TIM Cabang  perlu melakukan berbagai upaya pembinaan sehingga potensi dan peluang  usaha seperti itu dapat terus  ditumbuh kembangkan, menampung sejumlah tenaga kerja dan pada akhirnya mempunyai potensi usaha sambil beribadah yang dapat menyumbangkan zakat 2,5% sebagai kewajiban syariat yang harus ditunaikan.

Berbicara kewajiban zakat 2,5% hasil usaha (penjualan) bagi pengusaha adalah  suatu yang bersahaja jika pikirkan, tetapi suatu potensi jika diarahkan dan diorganisir dan diterapkan manajemen syariah.

Suatu ilustrasi; Seorang pengusaha binaan mempunyai penghasilan rata-rata Rp. 1 juta rupiah/hari, yang bersangkutan mampu berjualan 300 hari dalam satu tahun, artinya penghasilan yang diperoleh sebesar 300 juta rupiah/tahun. Mampu menunaikan kewajiban zakat penjualan 2,5%, jika dikalkulasi zakat hasil penjualan yang dikeluarkan tanpa disadari sebesar 7.5 juta rupiah/tahun. Jika kita mampu membina pengusaha UMKM sejumlah 500 orang, berarti pendapatan zakat penjualan yang terkumpul adalah sebesar 3,75 milyar selama satu tahun. Sesuatu yang mengharukan apabila difahami dan diyakini dan keichlasan.

”Kewajiban berzakat 2,5% adalah  suatu keniscayaan seorang hamba dalam mencapai cita-citanya, sebuah rencana akan menjadi kenyataan apabila dapat diwujudkan secara penuh keichlasan dan keyakinan”

Prakarsa TIM sebagai paguyuban induk organisasi masyarakat Aceh perantaun hendaknya menggagendakan program dan kegiatan pembinaan secara formal dan kontinue bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat, memberikan pendampingan dan perencaaan yang jelas melalui pelatihan-pelatihan, teknis penyajian masakan, yang pada akhirnya dapat memenuhi selera para pecinta kuliner khusunya kelas menengah di Ibukota.

Strategi pelaksanaan dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain  bekerja sama dengan Pemda DKI maupun menggalang kerjasama teknis dengan kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan instansi pemerintah lainnya yang relevan. Efeknya lainnya adalah memberikan dan membuka kesempatan kerja baru dan meningkatkan produktifitas dan nilai tambah hehidupan moril dan material warga Aceh di Ibu Kota Jakarta.

Para pedagang/UKM Aceh sudah saatnya juga merapatkan barisan untuk membentuk wadah bersama dengan membentuk Asosiasi Usaha Mie Aceh Jabodetabek, wadah tersebut diharapkan dapat memberikan harapan baru bagi masyarakat pengusaha UMKM Aceh yang yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan anggota itu sendiri.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kuliner khas Aceh tersebut mampu bersaing dengan kuliner lainnya seperti masakan khas padang, sunda, betawi, dll. Karena faktor tersebut seperti citarasa dan harga yang tidak terlalu mahal yang membuat kuliner khas Aceh ini banyak diminati oleh masyarakat semua kalangan. Tanggapan masyarakatpun sangat baik karena kuliner khas Aceh telah menjamur dimana-mana dan selalu ramai di datangi pengunjung khususnya pada sore hingga larut malam. Masyarakat penikmat kuliner ibukota mengaggap masakan Aceh merasa cocok untuk makan bersama keluarga maupun teman, disisi lain terjangkau harganya.

Keberadaan TIM sebagai lembaga paguyuban masyarakat Aceh perantauan sangat diharapkan, koordinasi dan pembinaan program yang riil guna menfasilitasi pelatihan teknis, manajemen organisasi dan pemasaran, menfasilitasi keikutsertaan berbagai event kuliner nasional maupun internasional khusunya bagi masyarakat pedagang / UMKM yang saat ini tercatat sebagai pengusaha/UMKM warga Aceh dibawah payung Taman Iskandar Muda Jakarta dan sekitarnya.

Semoga mendapat tanggapan dewan redaksi selanjutnya.

Jakarta,  16 April 2015

Wassalam

Hamidi Hasyim

 

Hamidi Hasyim, Hp. 0811805299.

  • Bekerja pada Kementerian Perdagangan RI, Jakarta, selaku Kasubdit Akses Perdagangan dan Investasi APEC, Direktorat Kerjasama APEC dan Organisasi Intenasional Lainnya, Direktorat Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional.
  • Anggota Bidang Pemberdayaan Ekonomi, Pengurus PP Taman Iskandar Muda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*