Pengungsi Rohingya: Dipotong Kaki, Lalu Digorok Leher

LHOK SUKÓN, 31 Mei 2015 | Derita sebagian muslim Rohingya yang terdampar di pesisir utara dan timur Aceh pada 10 Mei lalu, kini berakhir sementara di pengungsian di kompleks Tempat Pelelangan Ikan (TPI), Desa Kuala cangkoi, Kecamatan Lapang, Aceh Utara. Pengungsi yang berjumlah 329 warga Myanmar terdiri dari laki-laki dewasa 168 orang, perempuan dewasa 69 orang, anak-anak laki 40 orang dan anak-anak perempuan 52 orang.

Kondisi kesehatan mereka baik fisik maupun mental sudah terlihat normal. Menurut patauan langsung media online PP-TIM ke lokasi pengungsian bantuan dari donatur untuk kebutuhan mereka melimpah ruah yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari siswa sekolah dasar hingga mahasiswa ke lokasi tidak sekedar menyerahkan sumbangan namun juga bergotong0-royong membersihkan lokasi dari sampah seperti yang dilakukan oleh BEM Universitas Iskandar Muda (UNIDA) Banda Aceh. Terlihat juga mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh memberi motivasi kepada anak-anak dalam menggunakan sanitasi yang benar.

Menurut M.Isa relawan di posko bersama pada mulanya pengungsi Rohingya bercampur baur dengan warga Bangladeh, akan tetapi setelah diverifikasi mereka dipisahkan karena memiliki motivasi dan tujuan berbeda.

Husin pengungsi Myanmar dengan bahasa Melayu patah-patah bercampur Inggris menuturkan bahwa merek???????????????????????????????a meninggalkan negaranya bukan mencari pekerjaan seperti Banglades. Mereka terus mendapat teror fisik dari Myanmar dengan berbagai penyiksaan yang tidak berperikemanusian.

 

“Apabila warga Rohingya tertangkap tidak langsung dibunuh namun disiksa dengan cara dicongkel bola mata, dipotong tangan dan kaki baru kemudian digorok lehernya,” ungkap Husin.

 

Hal senada juga dipaparkan oleh Muhammad Kasim pengungsi yang berumur sekitar 14 tahun yang fasih berbahasa Inggeris jika ke orangtuanya dihabisi dan dia tidak mempunyai saudara lagi dan hal serupa juga dirasakan oleh anak-anak lain yang sekarang ada di pengungsian.

Keberadaan mereka kini sudah berangsung normal berkat penanganan seriaus dari berbagai pihak seperti dituturkan oleh M. Alif salah seorang petugas keamanan dari Polres Aceh Utara yang sedang bertugas piket saat disambangi oleh Media Online PP-TIM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*