Tokoh Aceh Terima Penghargaan Pemerintah Selandia Baru

JAKARTA – Merayakan 40 tahun hubungan diplomatiknya dengan ASEAN, Pemerintah Selandia Baru (NZ) memberikan penghargaan kepada 40 tokoh ASEAN yang berkontribusi mempromosikan hubungan diplomatik tersebut. Tujuh di antaranya berasal dari Indonesia.   Pemerintah NZ menurut rencana akan menyerahkan penghargaan kepada ke-7 tokoh Indonesia ini dalam sebuah acara resmi pekan depan yang akan dihadiri Menteri Layanan Negara – NZ Minister for State Services, Paula Bennett.

Indradi Soemardjan, pengusaha muda asal Bandung Jawa Barat dan Dr. Surya Darma, Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, merupakan dua dari ke- 7 penerima penghargaan dari Pemerintah Selandia Baru tersebut.

Indradi Soemardjan, Co-Founder PT Javanero yang memproduksi kopi berkualitas tinggi dan berkelanjutan merupakan salah satu penerima penghargaan tersebut. Indi, demikian akrab disapa, juga terpilih sebagai salah satu pengusaha muda unggulan di ASEAN dalam forum Young ASEAN Bussiness Leader tahun 2014 lalu.

Kiprahnya sebagai pebisnis muda dinilai penting untuk memberikan inspirasi bagi kalangan muda di kedua negara mengenai pertanian yang berkelanjutan khususnya kopi. Meski demikian, Indi mengaku dirinya justru yang banyak terinspirasi dengan pertanian berkelanjutan di Selandia Baru.

“Saya mempelajari banyak hal teknis terkait pertanian berkelanjutan (sustainability) dan juga metode lacak balik (traceability) yang sudah sangat bagus diterapkan di Selandia Baru,” kata Indradi.

“Lacak balik ini menyediakan informasi mengenai asal muasal produk, proses produksi dan pengolahannya yang melahirkan kualitas. Sehingga produk itu tidak hanya dijual sebagai komoditas tapi juga memiliki nilai lebih atau ‘speciality’ maupun perdagangan yang adil (fair trade),” jelasnya.

“Jadi tidak akan ada sustainability tanpa ada traceability dan pertanian NZ sangat kuat mendukung lacak balik ini,” tegas Indradi.

 

“Di NZ kalau misalnya Anda membeli baju wol itu konsumen juga akan diberi informasi kalau bahan wolnya berasal dari peternakan domba dimana. Dan hal ini berlaku sama untuk semua produk baik pangan seperti keju, anggur, buah-buahan dan lain-lain,” kata dia.

 

Menurut Indi, saat ini lacak balik telah menjadi trend dan keharusan dalam perdagangan produk premium di pasar internasional ke depan. Namun sayang Indonesia belum terlalu menganggap penting masalah ini.

 

“Hampir semua produk unggulan di Indonesia termasuk kopi tidak ada lacak baliknya. Dan karenanya kita tidak bisa melakukan pemetaan terhadap kawasan mana yang kaya akan kopi. Dan bagaimana kita akan memiliki pertanian kopi yang berkelanjutan kalau lokasinya saja tidak tahu,” katanya.

 

Dengan menerapkan metode pertanian berkelanjutan dan lacak balik ini, sekarang produk kopi dari pertanian miliknya sudah berhasil diekspor ke sejumlah negara termasuk Selandia Baru. Ia juga rajin memperkenalkan produk kopi Indonesia dalam berbagai event perdagangan dunia.

 

Indi mengaku bangga bisa mengangkat pendapatan petani kopi di Jawa Barat di 3 kabupaten yang menjadi binaannya yang terletak di kawasan Gunung Tilu, Bandung.

 

“Saya membeli biji kopi mereka dengan harga 25% – 30% lebih tinggi dari harga pasaran dan saya juga bisa mengenalkan mereka pada pasar internasional,” kata Indi.

 

Sementara itu, Dr. Surya Darma didapuk menerima penghargaan ini atas perannya yang luas dalam pengembangan sektor energi terbarukan yang selama ini menjadi salah satu dari 4 sektor andalan dalam hubungan Selandia Baru dan Indonesia. Dr Surya Darma yang alumni ITB ini melanjutkan studi masternya di Universitas Auckland, untuk mendalami teknologi pemanfaatan energi panas bumi (geothermal) pada tahun 1989 -1990.

 

Menurutnya Selandia Baru memiliki peran yang besar dalam mendukung pengembangan sektor energi terbarukan di Indonesia.

 

“Tahun 1973, Indonesia mengalami krisis energi akibat meroketnya harga minyak dunia. Oleh karena itu Indonesia berusaha mencari sumber energi alternatif dan ketika itu diprioritaskan untuk mengembangkan teknologi geothermal,” katanya.

 

“Selandia Baru telah mengambil langkah kepemimpinan dalam pengembangan teknologi geothermal di Indonesia. Salah satu buktinya adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Kamojang pada tahun 1970-an yang sejak awal pembangunannya mendapat pengawalan dari pakar geothermal dari Selandia Baru,” papar Ketua Umum Pimpiman Pusat Taman Iskandar Muda (PP-TIM)

 

Menurut Dr. Surya Dharma, Selandia Baru juga telah menciptakan sistem yang komplit dalam membantu Indonesia mengembangkan sektor energi terbarukan.

 

“Pemerintah Selandia Baru tidak cuma memberikan banyak beasiswa bagi pemuda Indonesia untuk belajar mengenai teknologi geothermal, tapi juga telah melakukan transfer of knowledge dan juga transfer teknologi serta tak terkecuali investasi di sektor ini,” jelasnya.

 

Untuk lebih memperkuat kerjasama di bidang energi terbarukan ini, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Selandia Baru telah meneken sebuah kesepakatan yang difokuskan untuk meningkatkan kerjasama pengembangan energi panas bumi dan selama lima tahun mendatang akan meningkatkan kapasitas SDM Indonesia mengenai energi panas bumi dan energi terbarukan.

 

Selandia Baru telah menjadi mitra dinamis bagi ASEAN sejak 1975 dan selalu mendukung peran sentral ASEAN dalam arsitektur kawasan yang sedang berevolusi.

 

Selandia Baru saat ini menempati posisi kedua sebagai mitra dialog terbesar ASEAN setelah Australia. Selandia Baru terlibat aktif dalam berbagai dialog dan kerjasama yang diselenggarakan di kawasan Asia Tenggara.

 

“Selandia Baru memandang penting hubungan kerjasama dengan ASEAN, kami memandang apa yang baik bagi ASEAN juga akan berdampak baik bagi Selandia Baru,” kata Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Dr.Trevor Matheson.

 

“Selandia Baru sangat bangga melihat pencapaian dan kemajuan yang diraih negara di kawasan ASEAN selama 4 dekade terjalinnya hubungan hubungan diplomatik dengan ASEAN,“ katanya.

 

“Kerjasama yang awalnya berupa pemberian bantuan kini telah beralih menjadi hubungan kerjasama yang sejajar, ASEAN telah banyak meraih kemajuan,” tambah Dubes Dr Matheson. (http://www.australiaplus.com)

Penghargaan dari Selandia Baru: Kiri-kanan  Duta Besar NZ untuk Indonesia, Dr Trevor Matheson, Dr Surya Darma, Duta Besar NZ untuk ASEAN, Stephanie Pamela Lee dan Indradi Soemardjan.

Penghargaan dari Selandia Baru: Kiri-kanan Duta Besar NZ untuk Indonesia, Dr Trevor Matheson, Dr Surya Darma, Duta Besar NZ untuk ASEAN, Stephanie Pamela Lee dan Indradi Soemardjan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*