Aceh Darurat Kekerasan Terhadap Anak

JAKARTA – Innaalillaahi wainna ilaihi rajiu’n. Aceh berduka. Selama
September, paling kurang tercatat dua kekerasan terhadap anak yakni
Ayu Azahara (6) warga Pandrah Bireun  yang diduga dibakar dan Nurul
Fatimah (11) siswi MIN Keunalo Seulimum Aceh Besar yang diduga
dikeroyok temannya di Aceh Besar. Dua bocah itu meninggal dunia di RS
Zainoel Abidin di Banda Aceh pada akhir September. Kasus terbaru,
seorang bocah berumur 14 tahun yang berstatus murid SD di Meulaboh,
Aceh Barat pada Jumat (2/10) melahirkan bayi perempuan di RSU Cut Nyak
Dhien Meulaboh setelah diperkosa oleh pria yang sudah beristri dan
beranak dua.

“Kekerasan yang dialami oleh anak perempuan menunjukkan Aceh sudah
berada dalam darurat kekerasan seks. Ini menjadi tanggung jawab
bersama,” ungkap Koordinator Lapangan Awak Droe Only (ADO) Verri
Al-Buchari Keuramat kepada wartawan di Banda Aceh, Senin (5

Demo di Simpang Limong, Banda Aceh, Senin )5/10)

Demo di Simpang Limong, Banda Aceh, Senin )5/10)

/10). ADO
adalah komunitas warga Aceh yang menetap di Aceh dan luar negeri yang
peduli pada kelanjutan pembangunan di Aceh.

Verri menegaskan siapa pun akan sangat terpukul dengan dua tragedi
dalam sebulan. Menurutnya, hal ini adalah tamparan kepada kita yang
lalai mendidik, membina, dan menjadikan anak-anak sebagai generasi
penerus yang beradab.  Jika tidak ada tindakan tegas dan terstruktur
dari kita bersama, masa depan anak-anak Aceh akan suram.

“Orang tua adalah guru pertama bagi anak  dan rumah adalah sekolah
pertama bagi buah hatinya. Jangan lepaskan masa depan anak  kepada
pihak lain dan termasuk menitipkan anak kepada siapa pun,” ajak Verri.

Sebagai keprihatinan bersama agar kekerasan seks terhadap anak tidak
terulang lagi, Verry mengajak  Kepedulian masyarakat dan lingkungan
terhadap potensial terjadi kekerasan seks. Selanjutnya,  keberanian
keluarga, masyarakat untuk melaporkan kasus-kasus  pelecehan,
kekerasan anak.

“Jika anak diperkosa, ini aib pelaku yang harus diambil tindakan untuk
dihukum seberat-beratnya.,” tegas aktivis kemanusiaan ini.

Selanjutnya, untuk tindakan untuk memberantas kekerasan terhadap
anak-anak yakni  kelembagaan dan aparatur negara mulai dari keuchik
dan seterusnya untuk lebih responsif mencermati persoalan-persoalan
anak mulai dari pendidikan, kekerasan seksual maupun fisik.

“Semua sepakat, hukum yang berat pelaku kekerasan terhadap anak. Ini
tindakan biadab. Hukuman yang berat atau saksi adat harus diberikan
kepada pelaku agar tidak terulang lagi. SaveAneukMitAceh,” pintanya.

Dalam kaitan dengan kekerasan yang dialami anak-anak Aceh, Verri
mengingatkan secara yuridis, Indonesia telah menjamin hak dan
perlindungan terhadap anak seperti tercantum di Pasal 28 B (2) UUD
1945 yakni setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan
berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi. Indonesia telah meratifikasi konvensi internasional
yaitu Konvensi Hak Anak dengan Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990.

Demikian juga, Indonesia telah memiliki Undang-Undang No. 35 tahun
2014 tentang Perlindungan Anak yakni Pasal 9 ayat 1a menyatakan bahwa
setiap anak berhak mendapatkan perlindungan disatuan pendidikan dari
kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga
kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

“Dalam konteks Aceh telah disahkan Qanun Nomor 11 Tahun 2008 tentang
Perlindungan Anak. Dari berbagai  peraturan, Islam secara tegas
menyatakan orangtua harus mendidik dan melindungi anak dari berbagai
tindakan kekerasan. Melindungi anak dari berbagai kejahatan merupakan
upaya menyelamatkan masa depan bangsa dan peradaban manusia,” jelasnya
panjang lebar.

Koordinator Lapangan ADO sepakat agar tragedi Ayu dan Fatimah tidak
terulang lagi pada masa kini dan mendatang meminta Pemerintah Aceh
untuk sungguh-sungguh mengimplementasi Qanun No 11 tahun 2008 tentang
Perlindungan Anak, mengajak seluruh orangtua, masyarakat dan pendidik
untuk peduli pada perubahan perilaku anak.

Mengutip data Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
(BP3A) Aceh, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Aceh pasca
tsunami meningkat. Pada umumnya pelaku adalah kerabat dekat korban,
seperti orang tua, paman, bibi, saudara, dan teman. Tahun 2012
kekerasan terhadap anak dan perempuan mencapai 679 kasus; tahun 2013
(848 kasus); dan 2014  (788 kasus).  Data ini terkumpul dari 11
kota/kabupaten, dari total 23 kota/kabupaten di Aceh.

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*