Meuripee, Tradisi Patungan Warga Banda Aceh Rayakan Maulid Nabi

0c9295a0-f764-438c-9ea5-885fd59e7255

Banda Aceh – 24 Belanga ukuran sedang dan satu berukuran lebih besar diatur membujur di halaman meunasah Desa Lamglumpang, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh. Kayu bakar disiapkan. Sejumlah pria sibuk memotong sapi dan kemudian membersihkannya. Mereka tengah menyiapkan kuah beulangong (kuah belanga).

Warga yang tidak masuk dalam kelompok potong sapi, sibuk menyiapkan aneka bumbu. Di antaranya cabai merah, cabai kering, kelapa gongseng, kelapa giling, cabe rawit, bawang putih, jahe, kunyit, ketumbar gongseng, lengkuas, kemiri dan kas-kas, untuk selanjutnya digiling hingga licin.

Setelah daging dipotong-potong berukuran kecil dan bumbu selesai digiling, kemudian dimasukkan ke dalam belanga, dan aduk hingga merata. Proses memasaknya membutuhkan waktu beberapa jam hingga daging empuk. Baunya sungguh menggugah selera dan rasanya gurih. Cocok untuk disantap dengan nasi.

Foto: Agus Setyadi/detikcom

Begitulah tradisi maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Lamglumpang, Senin (8/2/2016). Bagi masyarakat Aceh Besar dan Banda Aceh, kuah semacam kari dengan bahan utama daging sapi ini merupakan menu wajib yang harus ada. Warga di sana menyiapkannya secara gotong royong. Untuk biaya beli sapi ataupun berbagai keperluan lainnya, mereka kumpulkan secara patungan.

“Meuripee (patungan) yang kami lakukan di sini bervariasi. Orang kaya kami patok Rp 100 ribu dan warga miskin Rp 50 ribu. Sedangkan anak yatim dan janda tidak kami ambil sumbangan,” kata Kepala Desa Lamglumpang,  T. Munawar saat ditemui di lokasi.

Maulid di Aceh diperingati selama tiga bulan mulai Rabiul Awal, Rabiul Akhir dan Jumadil Awal. Biasanya digelar di meunasah-meunasah, masjid dan rumah warga. Setiap tahun, warga memperingati dengan khanduri (kenduri), zikir dan dakwah pada malamnya. Di provinsi berjuluk serambi Mekkah, beda kabupaten beda keunikan dalam memperingati maulid.

Foto: Agus Setyadi/detikcom

Pada maulid kali ini, masyarakat Lamglumpang menyembelih tiga ekor sapi yang dibeli dengan harga berkisar Rp 15,5 juta hingga Rp 18,5 juta. Proses memasak kuah beulangong dilakukan sejak pagi tadi sekitar pukul 09.00 WIB. Yang menjadi juru masak alias koki, semuanya laki-laki. Tidak ada perempuan.

Usai kuah beulangong dimasak, seorang warga kemudian masuk ke dalam meunasah untuk membuat pengumuman. Melalui alat pengeras suara, ia meminta masyarakat desa datang ke meunasah dengan membawa wadah. Kuah beulangon pun siap dibagikan.

“Masyarakat di sini kita beri kupon semua, sehingga mengambilnya sesuai kupon,” jelas Munawar.

Bukan hanya masyarakat Desa Lamglumpang yang menyantap kuah beulangong. Warga dari 15 desa berdekatan juga turut diundang. Para tamu ini menikmati sajian kuah beulangong yang sudah disiapkan sekitar pukul 16.00 WIB. Untuk nasinya, dibawa oleh masyarakat yang mengadakan maulid.

“Mereka dulu mengundang kita, sekarang kita yang mengundang mereka,” ungkap Munawar.

Selain untuk mengenang Rasullah, maulid di Aceh juga jadi ajang silaturrahmi. Menu yang disajikan saat maulid pun bervariasi. Jika di Aceh Besar dan Banda Aceh terkenal dengan kuah beulangong, di Kabupaten Pidie lain lagi. Menu hidangan yang disuguhkan masyarakat di sana yaitu sie puteh. Menu tradisional lain seperti keumamah, kuah sop, sie mirah juga mudah dijumpai saat maulid.

Foto: Agus Setyadi/detikcom

Menurut Munawar, masyarakat di Desa Lamglumpang sangat antusias menyambut bulan maulid. Jika tahun lalu warga memasak 23 kuali kuah beulangong, tahun ini bertambah menjadi 25.

“Masyarakat di sini sangat mendukung Maulid,” jelasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh, Reza Pahlevi, mengatakan, maulid kini sudah dimasukkan ke dalam paket wisata halal. Wisatawan yang mengunjungi Tanah Rencong pada bulan Rabiul Awal hingga Jumadil Awal dapat menikmati semaraknya maulid.

“Para turis ini juga akan kita ajak ke tempat-tempat maulid. Mereka juga dapat menyantap nasi maulid,” kata Reza kepada wartawan beberapa waktu lalu.
(try/try)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*