Warga TIM Gelar Acara Turun Tanah

APRIL_19_turun anak

Jakarta, Turun tanah atau tindak siten dalam istilah Jawa sudah membumi di seantero nusantara tidak terkecuali Aceh. Tradisi yang dilakukan pasca kelahiran seorang bayi ini sepertinya sudah mendarah daging bagi sementara kalangan masyarakat di negeri ini bahkan melampaui batas-batas agama dan suku. Sementara  aqiqah juga dilakukan pada hari ke tujuh dari kelahiran sang bayi. Namun ‘aqiqah bukanlah tradisi akan tetapi perintah syar’i yang termaktub dalam hadits Rasulullăh Shallallăhu ‘alaihi wasallam, memilki dasar hukum yang jelas dan jelas pula cara mengaplikasinya.

Teuku Rafli Pasya salah seorang masyarakat Aceh di lingkungan Taman Iskandar Muda (TIM) Cabang Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Ahad, 17 April 2016 menyelenggarakan dua hal di atas secara bersamaan dalam rangka tasyakuran atas kelahiran puteri keduanya yang disandangkan nama : “Cut Nazli Sairish Pasya.”
Kepada pptimnews saat disambangi selasai acara di kediamannya di bilangan Kemang Utara, Jakarta Selatan, Rafli yang didampingi isterinya, Nurah Syafirah Pasya mengungkapkan rasa kebahagiaannya atas kelahiran puterinya ini dan sangat mengharapkan do’a dari para jam’ah yang hadir pada acara tersebut agar puterinya kelak tumbuh menjadi wanita yang berakhlaq mulia, shalihah dan taat kepada kedua orangtua.

Sementara ibunda Rafli Pocut Haslinda Syahrul MD yang juga Ketua Bidang Kebudayaan PP-TIM terlihat sumringah selama acara berlangsung, malah sempat mengajak jurnalis pptimnews untuk menyambangi perpustakaan pribadi yang terletak di salah satu ruangan kediamannya. Dia bercerita banyak tentang sejarah Tun Srilanang, seorang tawanan Kerajaan Aceh Darussalam asal Sawar, Kesultanan Johor Lama, semenanjung Malaya yang dilantik sebagai penasihat Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, Sultan Iskandar Tsani dan Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Shah (permaisuri Sultan Iskandar Tsani) dengan gelar Orang Kaya Dato’ Bendahara Sri Paduka Tun Seberang. Kemudian Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam juga melantik Tun Seri Lanang sebagai Uleébalang Kenegerian Samalanga, yaitu bersifat pemerintah otonomi dalam sebuah jajahan Kesultanan Aceh.
Dalam kapasitas Ketua Yayasan Tun Sri Lanang yang juga sebagai keturunan ke-8, Pocut Haslinda mengatakan bahwa rekam jejak kakek buyutnya, sang penulis buku “Sulalatu’l-Salatin” itu baru diketahui setelah tiga abad kemudian.

Acara syukuran yang berjalan khidmat dipandu oleh Group Sakiina, yaitu group shalawat dan dzikir bentukan PP-TIM yang dipimpin oleh Hj. Tjut Ellyzar Said Umar Assegaf itu, di samping dihadiri oleh kerabat juga dihadiri oleh tokoh Aceh, DR. Ahmad Farhan Hamid, MS beserta isteri, Ir. Ferry Soraya dan Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan PP-TIM, Ir. Meutia Safrida Azwar (Syahrul Arifin).

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*