Mantan Menteri Malaysia: Perantau Jangan Lupa Kampung Halaman

JAKARTA – “Perantau jangan lupakan kampung halaman, jika anda sudah berhasil di perantauan jangan lupa untuk berbagi kepada daerah dan jangan lupa terhadap kampung halaman”.

Demikian Orasi Tan Sri Sanusi Djuned pada acara Silaturahmi Nasional Taman Iskandar Muda dan Masyarakat Aceh Serantau di Jakarta Msept_19_pptiminggu (18/9).

Sanusi menyebutkan untuk membangun Aceh sangat dibutuhkan sumber daya manusia, itu di butuhkan pendidikan yang beradab dan beragama.

Diakui dirinya berdasarkan pengalaman ya yang lahir di Kedah Malaysia yang kuliah di inggris dan jerman dan lain-lain. Pendidikan di jerman dan inggris : kualitas sebuah daerah/ negara sangat ditentukan oleh sumber daya pendidikan. Sumber daya alam bisa habis karena di kuras, namum sumber daya manusia tidak akan pernah habis apabila dikelola dengan sebaik baiknya.

Selama 30 tahun saya menjabat sebagai tangan kanan perdana menteri malaysia (mahathir muhammad) sukses membangun malaysia dengan pendidikan, tanpa pendidikan Qur’ani maka pendidikan umum akan hancur. Kedua pendidikan ini mesti berbarengan untuk mewujudkan generasi Qur’ani.

Dalam orasi ilmiah nya selama 1 jam lebih di hadapan 400 lebih undangan masyarakat aceh seluruh indonesia mantan Sekretaris Umno( partai politik terbesar malaysia)¬† itu menjelaskan pengalaman dirinya sejak lahir di Kedah Malaysia kemudian sekolah di Penang dan di seluruh dunia, menjelaskan bahwa ada 21 Filosofi Hidup orang Aceh, diantara nya meuru’ah (jatidiri) : seperti semangat kerja yang tinggi, menjunjung harga diri dan berwawasan luas.

Kita butuh pemimpin Aceh yang mempunyai 21 nilai filosofi hidup orang Aceh sebut Sanusi Djuned yang menikah dengan Puan Sri Datin Seri Nila Inangda cucu Teungku Muhammad Daud Beureueh.

Pada kesempatan yang sama Ketua Umum PP TIM DR. Surya Dharma¬† “Orang Aceh bisa tumbuh dan berkembang dimanapun”. Contoh Tan Sri Sanusi Djuned menjadi Menteri di Malaysia.

“Semua itu bisa kita lakukan, asalkan kita sepakat sambung Surya Dharma”

Sementara itu Ketua Panitia pelaksana silaturahim Masyarakat Aceh, Banta Umar B. Alwi menjelaskan acara ini di selenggarakan untuk memperkuat kembali hubungan Rakyat Aceh Perantau yang telah di gagas oleh Mustafa Abubakar (Mantan Ketua Umum PP TIM) pada tahun 2006. Kami Selaku panitia pelaksana sangat bersyukur atas kehadiran 11 perwakilan Organisasi Masyarakat Aceh Serantau.

Semoga hubungan yang kita bangun dalam silaturahim ini bermanfaat bagi kehidupan Rakyat Aceh baik yang ada di Aceh maupun yang di perantauan.

Satu hal yang patut disyukuri, kami sangat bangga terhadap kehadiran Tan Sri Sanusi Juned dari Ikatan Masyarakat Aceh Kerajaan Malaysia yang memberikan sambutan dalam kegiatan silaturahim ini.

Dalam laporannya, panitia pelaksana mengatakan tindak lanjut dari silaturahim ini adalah membangun komunikasi sesama perantau. Komunikasi yang terjalin di sini akan berlanjut di berbagai perwakilan organisasi Masyarakat Aceh, termasuk bandung, surabaya dan kemungkinan di kuala lumpur.

Acara ini berakhir dengan pembacaan ikrar bersama masyarakat Aceh Serantau yang di pimpin oleh ketua PP TIM dan di bacakan oleh ketua IKAMABA bandung, yang intinya akan meningkatkan kebersamaan bersama masyarakat aceh yang terhimpun dalam masyarakat aceh serantau.

Kemudian menjelang pilkada 15 februari 2017 masyarakat aceh serantau ikut memantau dan mengharapkan pilkada jujur dan damai supaya melahirkan pemimpin jujur dan transpormatif memimpin aceh kedepan.

Ikrar ini di bacakan dan ditandatangani oleh 11 perwakilan aceh yang hadir, yakni KAMABA Bandung, KTR Surabaya, HIMA Yogyakarta, Aceh Sepakat Sumut, PERMASA Kepri, PERMASA Riau, IMAS Makassar, IMAM Malaysia, HIMA Kaltim dan HIMMA Sulsel di sertai dengan penyerahan bungoeng jaroe (Plakat) yang di serahkan oleh Ketua Majelis Mufakat Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (TIM) Mayjen (Purn) Iskandar Ali didampingi oleh Ketua Umum PP TIM Surya Dharma dan Teuku Banta ketua pelaksana.

Kegiatan ini turut dimeriahkan oleh penampilan tarian taneup lampuan, saman dan seurune kale oleh Fadhil, serta penampilan musikalisali puisi kopi oleh Fikar W.Eda.

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*