Visi dan Misi

GARIS–GARIS BESAR HALUAN ORGANISASI

TAMAN ISKANDAR MUDA TAHUN 2012 – 2016

 

1. LANDASAN

1.1. Dasar Pemikiran

a. bahwa Taman Iskandar  Muda merupakan satu-satunya organisasi/ wadah bagi Keluarga Besar  Masyarakat Aceh yang bemukim di Jakarta dan sekitarnya, yang di  dalam seluruh kegiatannya mendasarkan diri pada prinsip-prinsip kekeluargaan dan musyawarah sesuai dengan asas Taman Iskandar Muda;

b. bahwa melalui mekanisme Musyawarah Besar organisasi Taman Iskandar Muda berupaya menetapkan Visi, Misi dan Strategi, sejalan dengan aturan dasar dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

c. bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut semakin disadari perlunya diperta-hankan dan ditingkatkan keberadaan dan kemampuan organisasi Taman Iskandar Muda dengan partisipasi seluruh anggota terutama dalam menghadapi dan mengantisipasi berbagai tantangan dan permasalahan dewasa ini;

d. bahwa pergantian kepemimpinan Taman Iskandar Muda telah berlangsung secara tertib dan demokratis, sehingga persatuan dan kesatuan Keluarga Besar Taman Iskandar Muda terus terpelihara dan terbina dalam suasana Ukhuwah Islamiyah;

e. bahwa berdasarkan kondisi-kondisi demikian, serta dengan mempertimbangkan upaya memantapkan pengembangan organisasi dalam rangka menjawab tantangan-tantangan baru, maka disusunlah Garis-garis Besar Haluan Organisasi Taman Iskandar Muda 2012-2016 sesuai dengan aspirasi yang tumbuh dan berkembang di kalangan anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya, untuk dijadikan panduan, acuan dan bahan pertimbangan dalam menggerakkan roda organisasi untuk lima tahun mendatang;

 

1.2. Visi

Menjadikan Taman Iskandar Muda sebagai organisasi warga masyarakat Aceh di Jakarta dan sekitarnya yang berwibawa, bermartabat dan bermanfaat bagi anggota dan warga masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Ukhuwah Islamiyah.


1.3. Misi

a. Aspek Keanggotaan

1) Mengupayakan peningkatan aspek bathiniah para anggotanya, yang ditandai oleh upaya memperkuat iman dan taqwa.

2) Mengaktualisasikan, melestarikan dan mewariskan nilai-nilai sejarah kejayaan Aceh agar mampu menjadi sumber inspirasi dan motivasi warga Aceh termasuk generasi penerusnya,dalam menghadapi tantangan-tantangan yang berlangsung saat ini maupun yang akan dihadapi di masa mendatang.

3) Mengupayakan peningkatan aspek lahiriah para anggotanya, yang ditandai oleh upaya mengakomodasikan dan memfasilitasi berbagai sarana dan wahana ekonomi, pendidikan, social dan budaya untuk peningkatan kesejahteraan anggota dan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan.

4) Mengupayakan peningkatan hubungan silahturahmi anggota di antara masya-rakat Aceh serantau dimanapun mereka berada.

 

b. Aspek Kedaerahan

1) Mengupayakan peningkatan perhatian dan peran-serta warga  Taman Iskandar Muda dalam pembangunan bidang ekonomi, sosial, budaya Nanggroe Aceh Darussalam, serta secara proaktif ikut membantu mengatasi berbagai permasa-lahan mendasar yang di hadapi oleh masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam.

2) Mengupayakan  kerjasama dengan Pemerintah Aceh   serta   seluruh pemangku kepentingan untuk mewujudkan terciptanya suasana damai untuk mendukung pembangunan Aceh secara menyeluruh.

3) Mengupayakan peningkatan hubungan langsung antara organisasi lokal dengan daerah asalnya di Aceh.

4) Mengupayakan penggalangan kerjasama organisasi “Aceh Serantau” dalam upaya mendukung kesejahteran Aceh yang bermartabat.

5) Mengupayakan peningkatan jalinan hubungan kerjasama Taman Iskandar Muda dengan Pemerintah DKI Jakarta dan sekitarnya dalam mewujudkan penijgkatan peran organisasi daerah nusantara terutama dalam keamanan, pendidikan, sosial dan budaya.

 

c. Aspek Kebangsaan

1) Mengupayakan peningkatan jalinan hubungan kerjasama Taman Iskandar Muda dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah lainnya.

2) Mengupayakan peningkatan peran-serta Taman Iskandar Muda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

2. KONDISI SAAT INI

2.1. Struktur Organisasi

Taman Iskandar Muda memiliki organisasi yang didukung oleh tiga pilar yaitu:

 

a. Taman Iskandar Muda dan Pengurus Cabang

TIM memiliki 44 Cabang sebaga organ organisasi secara stuktural dan mempunyai lini tanggung jawab yang herarkhis.

Karena Cabang merupakan organ organisasi yang paling depan, maka peran Cabang akan sangat mempengaruhi peran TIM ke depan. Masih adanya Cabang yang tidak aktif dan bahkan sudah sulit untuk menyusun kepengurus-annya menunjukkan bahwa Cabang-cabang tersebut perlu direstrukturisasi.

b. Taman IskandarMuda dan Orhansiasi Lokal

Hubungan Organisasi Lokal sebagai pilar lain dari TIM telah memberikan nuansa yang baik dalam pencitraan dan aktifitas TIM di masyarakat. Sebagai organisasi lokal pilar pendukung TIM, tentu saja perlu mendapat penangan yang sama kegiatan TIM walaupun dengan pola sentuhan yang berbeda.

c. Taman Iskandar Muda dan Organisasi Sektoral

Adanya organisasi sektoral, baik yang dibentuk langsung oleh PP-TIM dengan cabang-cabangnya dan atau yang dibentuk oleh masyarakat Aceh di Jabodetabek, Banten dan Karawang, sering menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dari anggota masyarakat Aceh terutama jika kehadirannya memberikan dampak yang signifikan baik secara ekonomi, soial, budaya maupun polkam.

Selama ini tidak terlalu jelas pola penanganan dan pola hubungan dengan TIM walaupun disebut juga sebagai pilar TIM. Karena itu, hal ini juga perlu mendapat penanganan yang tepat terhadap organisasi sektoral tersebut agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Kehadiran organisasi sektoral sedapat mungkin dapat memberikan manfaat ganda, bukan saja bagi pemberdayaan masyarakat Aceh warga TIM, tetapi juga dapat memberikan manfaat khusus bagi TIM.

 

2.2. Keanggotaan

Jumlah anggota yang disebut-sebut mencapai 100 ribu orang di Jabodetabek, Banten dan Karawang adalah jumlah yang sulit dibuktikan karena sampai saat ini belum ada inventarisasi anggota yang telah dilakukan secara komprehensif oleh TIM. Beberapa kali upaya melakukan pendataan, selalu terbentur karena berbagai masalah yang sifatnya operasional dan dukungan pendanaan. Walaupun tidak mengalami masalah dengan jumlah keanggotaan ini, tetapi tidak adanya data yang tepat sering kali menyulitkan dalam hal mengetahui secara persis sasaran Pembinaan dan koordinasi sesama anggota, apalagi saat penentuan distribusi zakat ke seluruh cabang.

 

2.3. Keuangan

Pengelolaan keuangan yang dilakukan PP-TIM masih menganut pola yang sangat konvensional yang hanya mengandalkan bantuan insidentil dan sedekah yang terkumpul pada saat bulan ramadhan untuk membiayai jalannya roda organisasi selama satu tahun.

Berbagai organsiasi modern memperlihatkan pola ini tentu saja sulit diandalkan untuk waktu yang lama. Karena itu, diusulkan adanya pola pendanaan yang tepat dalam pengelolaan organisasi ke depan, apakah itu melalui pembentukan Badan Usaha atau Yayasan yang dapat membantu jalannya roda organsisasi TIM.

2.4. Meunasah Sebagai  Aset  Peningkatan  Kapasitas  SDM  Bernuansa  Religi, Pendidikan dan Pencitraan Aceh

Bertahun-tahun meunasah menjadi dambaan warga Aceh Jakarta untuk dapat diwujudkan pada setiap Cabang TIM. Hal ini bisa dimaklumi mengingat meunasah sebagai sentral citra Aceh dan nostalgia kultural yang memotivasi sebagai warga Aceh dan juga sebagai wahana penggodokan manusia agar dapat beriman, bertakwa serta sarana tempat berkumpul untuk silaturahmi sekaligus sebagai kantor dan sekretariat bagi cabang yang bersangkutan.

Saat ini sudah ada 28 buah meunasah termasuk satu masjid dalam lingkungan cabang TIM. Ada kekhawatiran yang bias dimengerti jika kehadirannya semakin merisaukan karena sebagai besar diidamkan hanya oleh warga Aceh yang betul-betul datang dari Aceh yang tahu persis keadaan di kampungnya, sementara bagi warga Aceh yang dilahirkan di perantauan, maka kehadiran meunasah tidak merupakan impian apalagi dapat memotivasi sebagai warga Aceh. Hal ini perlu dilakukan upaya-upaya khusus agar keterlibatan generasi penerus baik yang lahir di Aceh, datang ke Jakarta mauapun yang lahir di perantauan memiliki rasa kerinduan yang sama terhadap kehadiran meunasah di TIM.

 

3. MASALAH DAN TATANGAN

3.1. Meningkatkan mata rantai ekonomi dalam suasana damai Aceh

Tantangan yang tengah dan masih akan dihadapi oleh seluruh masyarakat Aceh di mana pun berada saat ini dan mungkin masih dihadapi dalam beberapa tahun yang akan datang, adalah menjaga suasana damai Aceh secara menyeluruh. Disadari bahwa akumulasi dari berbagai kasus yang belum tuntas terselesaikan selama ini masih menimbulkan permasalahan yang rumit, kompleks dan memprihatinkan, serta dapat mengakibatkan degradasi sosial, budaya dan krisis ekonomi pada lapisan masyarakat bawah yang tentunya  berkaitan dengan harkat/martabat serta kehidupan sosial politik dan ekonomi Aceh. Semua itu memerlukan restorasi kembali dengan rumusan konseptual dan implementasi operasional.

Taman Iskandar Muda sebagai paguyuban masyarakat Aceh yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya dihadapkan pada tantangan untuk secara tepat memposisikan diri secara tepat dan baik, sehingga peranan dan konstribusinya bagi pembangunan Aceh yang sudah damai dapat dilakukan oleh semua pihak. Peran serta tersebut antara lain:

a. Mendorong terjalinnya rekonsiliasi secara menyeluruh untuk mengakhiri semua bentuk ketidak-harmonisan akibat sejarah masa lalu yang dialami rakyat Aceh.

b. Mendorong percepatan  pertumbuhan kehidupan  sosial  ekonomi  dengan memberi kesempatan seluas-luasnya bagi partisipasi masyarakat setempat untuk perluasan kesempatan kerja, sehingga terwujud pembangunan di semua sektor.

c. Mendorong terwujudnya stabilitas keamanan untuk dapat memberikan daya tarik sector ekonomi untuk kesejahteraan rakyat.

d. Mendorong terciptanya sistim kehidupan sosial akonomi yang tepat.

 

3.2. Sumber Daya Manusia

Perdamaian yang kini sedang berjalan dan terus didorong untuk tetap langgeng di Bumi Serambi Mekah, memberikan peluang yang subur bagi peningkatan pembangunan yang sudah jauh tertinggal dibanding dengan daerah-daerah lain akibat dililit konflik selama hampir 30 tahun. Berjalannya Pilkada Aceh yang baik selama 2 periode telah memberikan pembelajaran yang sangat baik bagi Indonesia dan merupakan tonggak sejarah yang harus dimanfaatkan sebagai tempat berpijak, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh.

Di kalangan TIM diketahi bahwa banyak potensi SDM yang belum termanfaatkan secara optimal untuk kepentingan bangsa dan juga untuk kepentingan strategis Aceh. Dalam perspektif tersebut maka diperlukan upaya keras untuk merajut potensi high flyer Aceh untuk Indonesia. Upaya ynag pernah digagas TIM namun belum berjalan dengan baik masih perlu dipikirkan dan diteruskan. Untuk Aceh, juga terlihat bahwa selama konflik berkepanjangan telah mengakibatkan krisis dalam fase multidimensional baik yang bersifat poleksosbudham (baca: politik, ekonomi, sosial, budaya dan HAM), maupun aspek strategis pemberda-yaan SDM unggul (high flyer) dari etnis Aceh yang tidak terkoordinasikan secara sempurna, atau kerap disebut lewat perumpamaan sebagai awe lam utuen masih tetap berjalan.

Atas dasar pertimbangan di atas maka upaya pemetaan para high flyer Aceh menjadi bagian dari langkah strategis untuk membangun masa depan Aceh ke depan, dan pada tataran tertentu akan memberikan sumbangan yang tidak kalah penting bagi pengem-bangan SDM bangsa sebagai elemen utama dalam penguatan daya saing Indonesia di pentas kompetisi global yang magnitudnya semakin bertambah seiring perjalanan waktu.

Permasalahan pengembangan kualitas dan kualifikasi SDM tetap merupakan tantangan besar yang menjadi salah satu persoalan mendasar dalam pembangunan di Aceh.  Tantangan  ini  merupakan hal yang akan dihadapi oleh Taman Iskandar Muda dalam upaya meningkatkan peran Keluarga Besar Taman Iskandar Muda dalam perumusan kebijakan dan kontribusinya untuk nasional.

Pentingnya pengembangan SDM ini dilandasi oleh munculnya kesadaran baru bahwa format persaingan dalam lingkup apapun, baik antar daerah maupun antar negara-bangsa telah bergerak dari sekedar mengandalkan kekayaan sumber daya alam menuju persaingan yang terutama mengandalkan kualitas dan kualifikasi sumber daya manusianya.

Dalam tahun–tahun mendatang selayaknya Taman Iskandar Muda mengambil posisi dan peran lebih besar serta serius dalam upaya pembinaan dan pengembangan SDM, terutama generasi muda Aceh yang potensial, yang bernaung dalam organisasi Taman Iskandar Muda Jakarta dan sekitarnya serta masyarakat Aceh di Aceh.

Harapan kita adalah agar dalam waktu yang tidak terlalu lama masyarakat Aceh mampu membangun kembali “ketangguhan pribadi” sekaligus membangun “ketangguhan sosial dan budaya“ yang berlandaskan iman dan taqwa kepada Allah Swt, sehingga masyarakat Aceh mampu memainkan peranannya kembali yang lebih besar di dalam pembangunan nasional serta kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

3.3. Pengembangan Organisasi

Meningkatnya jumlah warga Aceh yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya terus berlangsung dari tahun ke tahun, sejalan dengan meluasnya diversifikasi latar belakangnya seperti pekerjaan/ profesi, pendidikan, pandangan politik dan kemampuan ekonominya. Semua ini akan dapat menimbulkan keberagaman aspirasi dan tuntutan  para anggota yang semakin kompleks. Sejalan dengan itu diakui bahwa keberadaan dan kemampuan organisasi hanya mungkin dipertahankan apabila partisipasi aktif para anggotanya dapat ditingkatkan secara berkelanjutan, yang secara signifikan berkaitan erat dengan seberapa jauh organisasi memberi manfaat bagi anggotanya. Dalam kenyataan menunjukkan bahwa warga Taman Iskandar Muda dapat saja menjadi anggota dari berbagai organisasi sesuai profesi, pekerjaan, bidang keahlian dan keilmuan, kegiatan dan fungsinya di tengah-tengah masyarakat yang menyita perhatian pula.

Keseluruhan kondisi tersebut berjalan seiring dengan berlangsungnya reposisi Taman Iskandar Muda dalam komunitas masyarakat Aceh khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya yang terus berkembang sedemikian rupa, sehingga dimensi peranan yang diembannya pun semakin meluas dan rumit.

Oleh karena itu dalam beberapa tahun mendatang permasalahan pengembangan organisasi, baik menyangkut penataan pengelolaan kegiatan rutin operasional maupun pengembangan instrumen-instrumen organisasi, termasuk penataan aset–aset masya-rakat Aceh Jakarta dan sekitarnya dalam kerangka merespon berbagai tantangan dan permasalahan baru, akan mendorong semakin diperlukannya pengembangan organisasi bercirikan profesionalisme, penuh kearifan, kepekaan sosial, dan independensi.

 

3.4. Pelayanan Anggota

Terjadinya pergeseran nilai–nilai tradisi dan budaya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan di era globalisme, sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali masyarakat Aceh, baik pengaruh yang bersifat positif maupun negatif. Pengaruh negatif dari perkembangan kehidupan sosial kemasyarakatan ini pada gilirannya akan menyentuh kehidupan beragama, baik ditinjau dari dimensi Ubudiah maupun dari aspek Mu’amalah, yang direfleksikan oleh gejala erosi terhadap nilai–nilai iman, taqwa serta akhlak pada setiap lapisan masyarakat. Dampak negatif ini juga menyangkut segi Ukhuwah Islamiyah dimana terasa semakin meluasnya sikap ketidak-acuhan dan apatisme di kalangan umat.

Untuk meningkatkan pelayanan anggota perlu diusahakan pengembangan dan layanan informasi terutama yang berhubungan dengan social, budaya, pendidikan dan sebagai-nya. Selain itu perlu diusahakan peningkatan kesejahteraan anggota melalui dukungan dalam memdapatkan fasilitas pengembangan usaha, peluang berkarya dan pembiayaan yang diharapkan dapat semakin meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

3.5. Masalah Kebangsaan

Setiap warga negara termasuk setiap organisasi kemasyarakatan seperti Taman Iskandar Muda diharapkan mendukung dan berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan Pembangunan Nasional maupun Pembangunan Nanggroe Aceh Darussalam, sesuai kemampuan organisasi dan anggotanya. Tantangan bagi Taman Iskandar Muda adalah menumbuhkan kesadaran berpartisipasi para anggotanya untuk mengambil peran yang signifikan sebagai manifestasi rasa tanggung jawabnya bagi negara dan daerah kelahiran.

4. POLA PENDEKATAN

Sangat disadari bahwa dalam menjalankan Program Kerja sesuai ketetapan Musyawarah Besar, akan ditemui berbagai kendala dan hambatan, seperti keterbatasan waktu pengurus dan sarana/ prasarana organisasi, serta terbatasnya dana yang tersedia. Oleh sebab itu di dalam mengimple-mentasikan Program Kerja dipandang perlu untuk menempuh sejumlah pendekatan berikut ini :

 

4.1. Pendekatan Prioritas

Beranjak dari berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh organisasi Taman Iskandar Muda, maka di dalam implementasi Program Kerjanya diperlukan kearifan PP-TIM untuk menentukan urutan prioritas tantangan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Berdasarkan pendekatan ini maka tetap dapat dimaklumi apabila ada Program yang terpaksa tidak atau terlambat dilaksanakan untuk mendahulukan program lainnya yang diprioritaskan.

Untuk Program yang memerlukan penanganan yang komprehensif dan berkesinam-bungan lebih-lebih bila bernuansa strategis dapat dibentuk badan ad-hoc bahkan pengembangan instrumen organisasi yang keseluruhannya bertanggung jawab kepada Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda.

 

4.2. Pendekatan Kemitraan

Pendekatan kemitraan dimaksudkan agar PP-TIM mengupayakan dan membina kerjasama dengan berbagai pihak terkait, baik dalam lingkungan masyarakat Aceh maupun di luar organisasi kemasyarakatan Aceh, demi kelancaran dan kesuksesan merealisasikan Program Kerja.

Perlu digaris bawahi bahwa dalam kerjasama tersebut tetap harus dijaga dan dilindungi nama baik dan kehormatan organisasi Taman Iskandar Muda.

 

4.3. Pendekatan Transparansi

Diperlukannya sikap keterbukaan dan kearifan dari PP-TIM dalam melaksanakan program-programnya, termasuk kesiapan dan kesediaan untuk menerima koreksi dan kritik dari anggota melalui Cabang-cabang, dimana pada dasarnya demi dan untuk kepentingan dan kemajuan organisasi Taman Iskandar Muda.

Kesemuanya ini diharapkan dapat berlangsung pada seluruh jajaran PP-TIM, beranjak dari sikap saling menghargai, saling menghormati, saling mendukung, saling membutuhkan, saling menasehati serta saling belajar dan menimba ilmu dalam semangat Ukhuwah Islamiyah.

4.4. Pendekatan Dialogis

Prinsip dialogis dimaksudkan agar PP-TIM dalam menjalankan tugas-tugasnya perlu memperhatikan komunikasi timbal balik antara pengurus dengan anggota di satu sisi, dan di sisi lainnya antara pengurus dengan Pemerintah Aceh, organisasi masyarakat “Aceh Serantau”, Pemerintah Daerah DKI Jakarta, Pemerintah Daerah lainnya dan Pemerintah Pusat serta pihak-pihak yang terkait lainnya.

Melalui pendekatan dialogis ini selain diharapkan PP-TIM mampu menampung dan menjawab aspirasi anggota, juga akan memudahkan PP-TIM berperan aktif membawa visi dan misi organisasi ke luar.

 

4.5. Pendekatan Institusional

Pendekatan institusional dimaksudkan agar PP-TIM menjadi motivator, fasilitator dan dinamisator dalam menggerakkan institusi-institusi di lingkungan masyarakat Aceh.

Sejalan dengan itu melalui pendekatan ini kiranya PP-TIM semakin mampu untuk seluas mungkin mewarnai organisasi-organisasi kemasyarakatan “Aceh Serantau” terutama dalam kerangka membawa aspirasi masyarakat Aceh ke pentas Nasional.

Menjalin komunikasi strategis dengan perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Nanggroe Aceh Darussalam dan memiliki kantor pusat penghubung di Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

4.6. Pendekatan Diseminasi

Pendekatan diseminasi dimaksudkan agar PP-TIM mengangkat hal-hal positif untuk disebarluas-kan kepada para anggota, masyarakat Aceh dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Oleh karena itu berbagaiprogram yang dinilai berhasil demi kemajuan anggota, masya- rakat Aceh, maupun dalam kerangka mendukung program pada umumnya, perlu segera diinformasikan kepada pihak-pihak terkait sesuai dimensi dan lingkungannya.

 

5. ARAH KEBIJAKAN

Dalam rangka menjawab, mengantisipasi dan menanggulangi berbagai masalah dan tantangan masa depan, maka di dalam setiap langkah yang ditempuh oleh Taman Iskandar Muda untuk empat tahun ke depan masih relevan senantiasa mengacu kepada:

  • Paradigma Tapakou Anggota
  • Paradigma Tahiro Gampong
  • Paradigma Tajunjong Nanggroe
  • Paradigma Peuluah Syeidara

Ke arah empat paradigma ini dikembangkan berbagai Program Kerja dan kegiatan Taman Iskandar Muda untuk mewujudkan visi dan misi yang telah dirumuskan sebagai spirit dalam meraih tujuan organisasi.

Sesuai dengan paradigma kebijakan tersebut di atas, sudah selayaknya Taman Iskandar Muda mengambil peran yang lebih besar dan stategis, antara lain:

5.1. Mendorong pengorganisasian SDM professional di bidangnya dalam memberi pemikir-an untuk mempercepat proses pembangunan Aceh.

5.2. Mengupayakan adanya linked Tokoh/ Pengusaha Aceh dengan pedagang/ pelaku usaha dalam rangka pembinaan pengembangan ekonomi anggota.

5.3. Membuat  kerangka dasar penguasaan  dan pengembangan aset masyarakat Aceh di bawah penguasaan TIM agar dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat Aceh, serta bernilai kemanfaatan bagi lingkungan sekitar.

5.4. Mendorong terciptanya suasana damai, berkeadilan dan bermartabat pasca konflik.

5.5. Mendorong percepatan pemulihan kehidupan sosial ekonomi, politik dan budaya di Aceh dalam masa Pemerintahan yang terpilih secara demokratis.

5.6. Mendorong dan mencegah adanya ekses yang dapat merusak citra masyarakat Aceh dan Pemerintah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

5.7. Mendorong dilakukanya upaya penegakan hukum yang arif dan penyelesaian perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) serta pelanggaran hukum lainnya di Aceh.

5.8. Mendorong percepatan pembangunan ekonomi, dan keselarasan sarana & prasarana pendidikan yang mendukung Aceh sebagai daerah istimewa dan serambi mekkah.

5.9. Mengupayakan bantuan bagi para pelajar/ mahasiswa Aceh yang membutuhkan agar tidak terputus pembiyaannya dalam melanjutkan pendidikan di lembaga pendidikan nasional dan international.

5.10. Mendorong lahirnya peraturan perundang-undangan yang kondusif sesuai Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA).

 

6. POKOK-POKOK PROGRAM

6.1. Tantangan Sosial Masyarakat Aceh

a. Meningkatkan pemberdayaan Badan–badan otonom Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda yang dibentuk khusus sebagai organisasi sektoral TIM  untuk dapat berperan optimal di Aceh dan secara nasional, dengan tetap mempertahankan dan menjaga kepentingan substansial masyarakat Aceh pada umumnya.

b. Mendorong terciptanya suasana damai sebagai bagian dari  pra kondisi berjalannya pembangunan ekonomi, social, budaya dan keamanan Aceh.

c. Mendorong terciptanya kembali Aceh sebagai Daerah Serambi Mekah, yang kaya akan nilai agama, adat/budaya.

 

6.2. Tantangan Sumber Daya Manusia

a. Mengupayakan diadakannya kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang bersifat insidental maupun yang berkelanjutan sebagai upaya peningkatan kapasitas SDM dalam lingkungan TIM untuk kepentingan Aceh secara keseluruhan.

b. Mengupayakan terus adanya bantuan pendidikan, beasiswa, orangtua asuh dan kerjasama dengan pihak-pihak yang dianggap relevan, dengan sasaran putra–putri warga Taman Iskandar Muda yang tidak mampu pada usia sekolah sampai dengan SLTA dan Perguruan Tinggi secara selektif.

c. Mendorong semua upaya dalam mendukung Pemernintah dan Pemerintah Aceh membangun sarana dan prasarana pendidikan.

d. Mendorong dan tersedianya sarana yang dapat mengoptimalkan SDM Aceh yang potensial pada seluruh jenjang karier di tingkat Nasional.

 

6.3. Tantangan Pengembangan Kewirausahaan

a. Mengupayakan terciptanya jiwa dan semangat kewirausahaan di kalangan Anggota Taman Iskandar Muda, terutama komunitas muda.

b. Memprakarsai adanya kajian singkat pola penguatan ekonomi rakyat.

c. Bekerjasama dengan lembaga-lembaga tertentu untuk mengadakan pendidikan singkat, tepat, dan berdaya guna sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.

d. Menggalang dan mengembangkan kerjasama dalam bentuk konsultatif dengan lembaga-lembaga/ badan-badan yang memungkinkan bantuan/ pinjaman pembiayaan usaha.

e. Mendorong terciptanya kerja sama yang berkesinambungan antara para pengusaha kecil/ pedagang dengan membentuk badan silaturrahmi.

f. Memprakarsai berdirinya usaha yang menyediakan beragam hasil panganan, kerajinan/ kraft dan hasil bumi NAD, yang dijalankan oleh badan khusus yang dibentuk oleh TIM.

g. Mendukung adanya kesempatan kerja bagi putra-putri Aceh di perusahaan-perusahaan, sesuai dengan pendidikan dan kemampuan.

 

6.4. Tantangan Pengembangan Organisasi

a. Mengupayakan pembangunan kantor Sekretariat Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda dan gedung serba guna (Rumoh Aceh) yang telah digagas Yayasan Kesejahteraan TIM.

b. Peningkatan profesionalisme pengelolaan organisasi pada semua jajaran.

c. Mengupayakan kemandirian organisasi terutama dalam hal pendanaan, dengan :

1) Usaha meningkatkan jumlah dana abadi.

2) Usaha penempatan/ penggunaan dana untuk lebih produktif.

3) Pembentukan badan usaha yang tidak bertentangan dengan ketentuan organisasi.

d. Pengembangan dan atau penggabungan cabang secara selektif.

e. Meningkatkan kinerja dan pengembangan  BMT.

f. Pembangunan dan renovasi Meunasah.

g. Menggalang dan mengembangkan kerjasama organisasi “Aceh Serantau”.

h. Pembentukan suatu badan yang berfungsi sebagai Bank Data dan Pusat Informasi.

i. Melanjutkan penataan aset-aset organisasi masyarakat Aceh Jakarta dan sekitarnya seperti meunasah–meunasah Cabang Taman Iskandar Muda, Yayasan TIM, Yayasan Foba, Asrama Perahu dan lain–lain.

 

6.5. Tantangan Pelayanan Anggota

a. Penggalakan da’wah Islamiyah secara rutin baik secara terpusat dan atau melalui organisasi sektoral/lokal dan cabang TIM maupun dalam memperingati hari-hari besar Islam yang relevan.

b. Peningkatan manajemen zakat di lingkungan Taman Iskandar Muda.

c. Melestarikan dan mempromosikan kesenian dan Kebudayaan Aceh.

d. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dianggap perlu dalam rangka Tapakoe Anggota.

e. Dukungan pengembangan dan layanan informasi bagi anggota terutama mengenai kesempatan kerja, peluang usaha, pendidikan, pusat-pusat pelatihan dan sebagainya.

 

6.6. Tantangan dalam kehidupan Kebangsaan

a. Partisipasi dalam berbagai kegiatan kehidupan bernegara dan pembangunan nasional pada umumnya.

b. Mengupayakan kerjasama dengan Pemerintah Pusat, Pemerintah DKI Jakarta dan sekitarnya serta Pemerintah Daerah lainnya dalam bidang sosial, budaya, peningkatan Sumber Daya Manusia, dan ekonomi rakyat

c. Membangun kerjasama komprehensif dengan Pemerintah Aceh serta menggalang kerjasama dengan pihak-pihak terkait guna membantu akselerasi pembangunan Daerah Aceh.

 

6.7. Tantangan restrukturisasi Organisasi dan pemanfaatan Aset

6.7.1. Struktur Organisasi

Penguatan pilar pendukung organisasi Taman Iskandar Muda yaitu:

a. Taman Iskandar Muda dan Pengurus Cabang

44 Cabang TIM sebagai organ organisasi secara stuktural dan mempunyai lini tanggung jawab yang herarkhis perlu diperkuat dan dirasionalkan jika tidak memperlihatkan adanya aktifitas yang memadai.

 

b. Taman Iskandar Muda dan Organsiasi Lokal

Penguatan dan rssionalisasi pola Hubungan Organisasi Lokal sebagai pilar lain dari TIM dan turut memberikan nuansa yang baik dalam pencitraan dan aktifitas TIM di masyarakat. Organisasi lokal tingkat kecamatan yang dirasakan memberikan dukungan kuat pada level kabupaten/kota juga perlu diberdayakan.

 

c.  Taman Iskandar Muda dan Organisasi Sektoral

Rasionalisasi dan restrukturiasasi pola hubungan penguatan organisasi sektoral baik yang dibentuk langsung oleh PP-TIM dengan cabang-cabangnya dan atau yang dibentuk oleh masyarakat Aceh di Jabodetabek Banten/Karawang agar terlihat jelas dalam TIM. Pola penguatan agar kehadirannya memberikan dampak yang signifikan baik secara ekonomi, sosial, budaya maupun politik keamanan.

Penguatan ini dilakukan secara lebih fokus oleh TIM agar sebagai pilar organisasi memiliki peran yang konkrit. Kehadiran organisasi sektoral sedapat mungkin dapat memberikan manfaat ganda, bukan saja bagi pemberdayaan masyarakat Aceh warga TIM, tetapi juga dapat memberikan manfaat khusus bagi TIM.

 

6.7.2. Keanggotaan

Perlu inventarisasi jumlah anggota yang disebut-sebut mencapai 100 ribu orang di Jabodetabek dan Banten serta Karawang agar memberikan kemudahan dalam penanganan dan pembinaan anggota.

6.7.3. Keuangan

Perlu dicari pola untuk dapat memberikan keleluasan dan memungkin-kan memperoleh sumber dana yang memadai dalam pendanaan TIM termasuk upaya mendapatkan alokasi dari APBA dalam kaitannya dengan pemberdayaan Aceh di perantauan.

6.7.4. Meunasah sebagai Aset Utama TIM

Pemberdayaan pemanfaatan aset Meunasah TIM untuk peningkatan kapasitas SDM bernuansa religi, pendidikan dan pencitraan Aceh

Perlu dicari pola pengelolaan yang juga punya relasi dengan pember-dayaan asset keagamaan di Aceh. Untuk ini asset utama tersebut agar diselesaikan status dan ditentukan pola pengelolaannya melalui Yayasan yang dibentuk PP-TIM atau Cabang TIM atas persetujuan PP-TIM.

 

7. PENUTUP

Garis-garis Besar Haluan Organisasi Taman Iskandar Muda 2012–2016 ditetapkan untuk panduan dan arahan bagi Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda dalam menyusun dan melaksanakan Program Kerjanya.